Selasa, 18 Februari 2014

Sejarah, Saat Ini, dan Mimpiku


Aku  masuk pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah tepatnya pada  tanggal 10 Juli 2005. Di pondokku itu memang biasanya menerima santri baru pada tanggal tersebut. Aku masuk  ke pondok atas keinginan pakdheku dan aku menyetujui keinginan tersebut. Sebenarnya letak pondok itu lumayan jauh dari rumahku, tetapi karena aku terbiasa merantau itu tidak menjadi kendala. Aku tinggal di Purworejo sampai sekolah taman kanak-kanak, setelah itu aku pindah ke Cilacap.
Pakdheku sudah mengetahui pondok tersebut semenjak aku berada di sekolah dasar. Pakdheku yang berprofesi sebagai ustadz, pernah mengantarkan muridnya ke pesantren tersebut. Pakdheku merekomendasikan pondok tersebut dikarena biaya sekolah dan madrasahnya yang terbilang terjangkau.
Seperti santri secara umumnya, awalnya di sana aku juga tidak betah tinggal di pondok. Kadang aku ingin pulang, namun jarak dan waktu yang tak memungkinkan. Tapi, akhirnya akupun bisa betah tinggal di pondok. Aku mulai senang menjalani hidup di pondok.
Saat memulai SMA, aku bertekad harus memiliki prestasi yang lebih dibandingkan SMP. Aku ingin berprestasi seperti ketika di SD, walaupun memulai prestasi ketika kelas V SD dengan mendapatkan peringkat kedua di kelas. prestasi yang paling membanggakan ketika SD, yaitu ketika mendapatkan nilai DANEM tertinggi sekecamatan. Saat SMP, awalnya aku peringkat tiga besar tetapi seiring berjalannya waktu peringkatnya semakin menurun. Hal itulah yang aku sesalkan dan tak akan ku ulangi ketika SMA.
Di pondokku, diwajibkan untuk santrinya sekolah madrasah yang dilakukan pada pagi hari. Waktu pendaftran santri baru, aku diuji baca Al Qur’an dan baca kitab. Dari hasil uji itu, aku ditetapkan di kelas III madrasah ibtidaiyah yang khusus keagamaan saja. Untuk sekolah SMA, aku bersekolah mulai jam 13.00-17.00 dengan istirahat ketika shalat ashar berkumandang.
Aku tinggal di asrama Ma’had Aly yang berada di luar pondok pusat. Jarak antara asramaku dengan pondok tidak terlalu jauh, cukup ditempuh dengan berjalan kaki. Di asramaku, juga ada pemangku asrama yang juga masih ahlul bait pondok. Di asrama ada sepuluh kamar dan aku tinggal di kamar keenam. Ada hampir 20 orang yang tinggal di kamarku. Di kamarku juga memiliki ketua kamar yang biasa umurnya lebih tua dibanding dengan penghuni kamarnya. Biasanya kami memanggil ketua kamar dengan sebutan “Ummi”. Setiap kamar juga memiliki struktur kepengurusan, karena aku masih baru jadi aku belum masuk kepengurusan. Saat tidur, kami hanya beralas tikar atau karpet dengan bantal dan selimut ala kadarnya.
Hiruk-pikuk sekolah di pondok pada kenyataannya, berbeda dengan yang ku bayangkan selama ini. Ternyata lebih berwarna, dari segi pengajaran dan teman-teman yang ku temui. Sekolahku antara putra dan putri dipisahkan, sehingga setiap hari aku di sekolah bertemu dengan teman-temanku para kaum hawa. Ada hal unik ketika istirahat, biasanya kami bersama-sama pergi ke pasar untuk membeli makanan. Setelah itu kami duduk di belakang kelas dan duduk mengelilingi satu meja. Kita biasa menamakan “buka resto” kalau waktu itu yang tiba. Seakan dianggap restaurant, tempat kita meluangkan waktu untuk makan. Ada hal yang lucu juga jika tidak ada guru, untuk menghilangkan kejenuhan biasanya teman-temanku mengadakan konser dangdut dadakan. Lumayanlah, menghilangkan penat apalagi sehabis berkutik dengan mafia (matematika, fisika, kimia).
Ketika duduk di bangku kelas X, aku lumayan terkenal jago matematika. Alhasil, ketika banyak pe-er matematika biasanya teman-teman mangkir ke bangkuku minta diajarkan matematika. Karena kepintaran dalam matematika itu, pak guru mempercayakan diriku mendapatkan nilai 100 di raport. Kelas X adalah awal aku menjadi peserta olimpiade matematika. Sebenarnya saat itu aku jadi cadangan peserta, dibutuhkan jika ada lowongan peserta. Ternyata, aku dicantumkan jadi daftar peserta dan mulai berkutik dengan soal-soal olimpiade yang menguras otak itu. Pertama kalinya ikut olimpiade,  aku tak berharap jadi juara. Apalagi ku belum berpengalaman mengerjakan soal-soal rumit itu. Ternyata benar, memang belum saatnya aku menang untuk olimpiade matematika. Seiring berjalannya waktu, akupun semakin rajin untuk memecahkan teka-teki matematika. Akhirnya waktu kelas XI, aku mendapatkan juara III olimpiade matematika se-Kabupaten Situbondo. Waktu menjadi juara itu, aku untuk ketiga kalinya menjadi peserta olimpiade. Dengan pengalaman itu, aku jadi tahu bahwa prestasi itu tidak didapatkan secara instant. Selain olimpiade matematika, aku juga pernah ikut olimpiade kimia tingkat Karesidenan Besuki. Walaupun tidak dapat juara, tapi aku cukup bangga dengan masuk sepuluh besar finalis. Senang juga sebagai anak pesantren, kita ternyata tidak kalah dalam segi akademik dengan anak SMA yang terkenal diluar sana.
Berawal dari pengalaman bolak-balik ikut olimpiade dan selalu dapat peringkat I-II adalah modal awal aku ikut PBSB. Aku mengenal PBSB sejak tahun 2007 ketika kakak kelasku ada yang mengikuti seleksi. Dalam benakku saat itu, akupun ingin menjadi salah satu bagian dari PBSB. Ketika akhir kelas XII, anak-anak yang berprestasi di sekolah mendapat panggilan dari pihak sekolah untuk mengikuti seleksi PBSB. Saat itu, siswa yang lolos administrasi ada 9 orang termasuk aku. Kalau tidak salah, bulan April dilaksanakan ujian masuk PBSB di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Di tempat itu juga, tempat dimana  aku mengikuti seleksi olimpiade matematika tingkat provinsi waktu dulu. Ujian yang dilakukan saat itu meliputi ujian potensi akademik, bahasa inggris, psikotest, dan kepesantrenan. Karena pengalamanku dalam olimpiade, aku hati-hati dalam mengerjakan soal-soal. Lain halnya dengan temanku, setelah selesai ujian aku bertanya pada temanku. Untuk pelajaran yang nilainya ada minus, dia asal mengisi jawaban tanpa mempertimbangkan nilai minusnya. Aku jadi teringat ketika pengumuman olimpiade dulu, ada yang nilainya minus karena asal mengisi jawaban.
Saat pengumuman PBSB, aku diberitahukan temanku bahwa yang berhasil diterima aku dan temanku itu. Aku diterima di IPB dengan jurusan Statistika dan temanku diterima di UGM dengan jurusan Budidaya Perikanan. Sebenarnya saat itu aku  mempunyai perasaan tak enak, karena ada temanku yang sangat menginginkan masuk PBSB. Tapi takdir berkata lain, temanku yang sangat berharap itu tidak diterima. Aku jadi sungkan memberitahukan teman-temanku jika yang diterima PBSB hanya dua orang saja. Tapi akhirnya merekapun tahu dan menerima kenyataan yang ada.
Selagi menunggu panggilan untuk matrikulasi di IPB, aku juga menunggu pengumuman UAN. Ketika malam sebelum keberangkatanku ke Bogor, aku dan temanku menunggu di gedung SMA. Aku dan temanku begitu penasaran dengan pengumuman itu. UAN yang dilakukan pada tahun 2008 adalah  ujian dimana ada enam mata pelajaran yang diujikan. Aku begitu penasaran dengan nilai fisika, karena menurutku ujian ini yang paling susah. Waktu aku dan temanku baca pengumuman, kami mengucapkan syukur “alhamdulillah”. Aku sudah tak peduli dengan nilai, yang penting sudah ada cap “lulus” sebagai tanda aku bisa jadi bagian dari PBSB.
Aku tak tahu dengan Bogor, aku baru tahu Bogor saat aku menginjakkan kaki di Cibinong. Pernah aku membayangkan, kalau Bogor itu kota hujan berarti tiap hari hujan. Dan aku membayangkan bagaimana dengan jemuran pakaianku berarti tiap hari harus dijemur di bawah atap genteng. Ternyata tak begitu, yang aku rasakan biasanya hujan di Bogor itu sore. Jadi, jemuran bisa kering kalau dijemur dari pagi sampai sore saja.
Aku ke Bogor diantarkan pakdheku dan sepupuku. Sebelum ke IPB, aku diajak oleh pakdheku ke rumah muridnya di Cibinong. Pakdheku juga tak tahu dimana letak IPB, apalagi aku yang cukup awam ini. Aku diantar oleh murid pakdheku dengan sepeda motor ke kampus IPB. Aku tak tahu ternyata IPB dari Cibinong itu cukup jauh, tak bisa ku bayangkan saat itu aku membonceng sepeda motor dengan keadaan pakai rok dan duduk menyamping.
Akhirnya setelah menempuh  waktu beberapa jam, aku sampai juga di wisma Amarilis IPB. Disana aku kebingungan mau menyapa orang-orang, dan tak begitu lama ada juga yang menyapaku. Ternyata dia adalah teman yang disampingku saat aku ujian di Surabaya. Tetapi sekarang dia sudah tiada, sudah dipanggil yang Maha Kuasa. Dia adalah teman yang seharusnya akan jadi teman akrab di jurusanku. Temanku, semoga kau tenang di alam sana dan sampai ketemu suatu saat nanti.
Ketika aku bertemu dengan orang-orang dan lingkungan baru, saatnya juga bagiku untuk  beradaptasi dengan keadaan yang  ada. Layaknya seekor merpati yang baru keluar dari sangkar, akupun ikut terbawa suasana. Apalagi baru punya handphone, makhluk yang selama ini tak pernah ku sentuh dan ku otak-atik. Aku semakin penasaran dengan hal yang baru seperti itu.
Aku berkenalan dengan teman-temanku yang sama-sama PBSB. Ternyata mereka sama polosnya seperti aku ketika pertama kali di IPB. Banyak hal-hal yang seru, unik, dan kocak yang ku temui saat bergaul dengan mereka. Apalagi saat kuliah, temanku ada yang iseng memotret temannya yang tidur. Cerita yang menurutku kocak juga, saat temanku bercerita kalau ketika tengah malam dia dan temannya sama-sama menelepon. Padahal mereka satu kamar, maklum saat itu mereka mungkin tak ada kerjaan dan belum bisa tidur, serta provider handphone mereka sedang promosi gratis nelpon tiap tengah malam sampai pagi.
Berbeda dengan diriku yang saat SMA menjadi study-oriented, aku ingin saat kuliah merasakan menjadi salah satu bagian dari suatu organisasi. Setelah aku mencoba berbagai organisasi, ku sadari ternyata CSS Mora IPB-lah yang melekat di hati. Disana baru kusadari betapa berartinya sebuah keluarga dan kebersamaan.
Untuk masalah kuliah, aku bukanlah bagian dari orang yang pintar. Aku pernah merasakan hancur ketika mendapatkan nilai yang jelek. Tapi aku juga tak merasa terpuruk, ternyata aku masih punya teman yang sama-sama senasib. Setidaknya itu meringankan bebanku sebagai mahasiswa dengan nilai jelek. Prinsipku sekarang ini yang penting adalah bisa lulus cepat dan segera mengabdi ke pondok. Andai aku diberi kesempatan untuk kuliah S2, akan ku perbaiki cara belajar menjadi lebih baik dan akan kutunjukkan menjadi salah satu bagian orang yang pintar. Semoga Allah SWT mengabulkan pintaku ini (amin).
Kemungkinan aku akan mengabdi di pondok dengan mengajar matematika di SMA. Kalau ada tawaran mungkin juga mengajar di SMP yang ada di pondok. Selain bekerja di pondok, aku juga ingin bekerja di luar tapi pekerjaannya tak jauh dari dunia mengajar. Karena ketika di kampus juga diajarkan kewirausahaan, aku juga mempunyai mimpi memiliki florist, peternakan, dan restaurant. Di bidang pendidikan aku juga berkeinginan melanjutkan kuliah S2 dan S3.
Success  menurutku adalah bermanfaat untuk orang lain (seperti yang disampaikan oleh Bang Sulam dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji). Jadi apalah artinya orang pintar, jika ilmunya tidak bermanfaat untuk orang lain. Seperti dalam agama Islam disampaikan bahwa ilmu yang disampaikan ke orang lain termasuk amal jariyah. Mungkin sekian sepenggal ceritaku, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar