Aku masuk pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah
tepatnya pada tanggal 10 Juli 2005. Di pondokku
itu memang biasanya menerima santri baru pada tanggal tersebut. Aku masuk ke pondok atas keinginan pakdheku dan aku
menyetujui keinginan tersebut. Sebenarnya letak pondok itu lumayan jauh dari
rumahku, tetapi karena aku terbiasa merantau itu tidak menjadi kendala. Aku
tinggal di Purworejo sampai sekolah taman kanak-kanak, setelah itu aku pindah
ke Cilacap.
Pakdheku
sudah mengetahui pondok tersebut semenjak aku berada di sekolah dasar. Pakdheku
yang berprofesi sebagai ustadz, pernah mengantarkan muridnya ke pesantren
tersebut. Pakdheku merekomendasikan pondok tersebut dikarena biaya sekolah dan
madrasahnya yang terbilang terjangkau.
Seperti
santri secara umumnya, awalnya di sana aku juga tidak betah tinggal di pondok. Kadang
aku ingin pulang, namun jarak dan waktu yang tak memungkinkan. Tapi, akhirnya
akupun bisa betah tinggal di pondok. Aku mulai senang menjalani hidup di
pondok.
Saat
memulai SMA, aku bertekad harus memiliki prestasi yang lebih dibandingkan SMP.
Aku ingin berprestasi seperti ketika di SD, walaupun memulai prestasi ketika
kelas V SD dengan mendapatkan peringkat kedua di kelas. prestasi yang paling
membanggakan ketika SD, yaitu ketika mendapatkan nilai DANEM tertinggi
sekecamatan. Saat SMP, awalnya aku peringkat tiga besar tetapi seiring
berjalannya waktu peringkatnya semakin menurun. Hal itulah yang aku sesalkan
dan tak akan ku ulangi ketika SMA.
Di
pondokku, diwajibkan untuk santrinya sekolah madrasah yang dilakukan pada pagi
hari. Waktu pendaftran santri baru, aku diuji baca Al Qur’an dan baca kitab.
Dari hasil uji itu, aku ditetapkan di kelas III madrasah ibtidaiyah yang khusus
keagamaan saja. Untuk sekolah SMA, aku bersekolah mulai jam 13.00-17.00 dengan
istirahat ketika shalat ashar berkumandang.
Aku
tinggal di asrama Ma’had Aly yang berada di luar pondok pusat. Jarak antara
asramaku dengan pondok tidak terlalu jauh, cukup ditempuh dengan berjalan kaki.
Di asramaku, juga ada pemangku asrama yang juga masih ahlul bait pondok. Di
asrama ada sepuluh kamar dan aku tinggal di kamar keenam. Ada hampir 20 orang
yang tinggal di kamarku. Di kamarku juga memiliki ketua kamar yang biasa
umurnya lebih tua dibanding dengan penghuni kamarnya. Biasanya kami memanggil
ketua kamar dengan sebutan “Ummi”. Setiap kamar juga memiliki struktur
kepengurusan, karena aku masih baru jadi aku belum masuk kepengurusan. Saat
tidur, kami hanya beralas tikar atau karpet dengan bantal dan selimut ala
kadarnya.
Hiruk-pikuk
sekolah di pondok pada kenyataannya, berbeda dengan yang ku bayangkan selama
ini. Ternyata lebih berwarna, dari segi pengajaran dan teman-teman yang ku
temui. Sekolahku antara putra dan putri dipisahkan, sehingga setiap hari aku di
sekolah bertemu dengan teman-temanku para kaum hawa. Ada hal unik ketika
istirahat, biasanya kami bersama-sama pergi ke pasar untuk membeli makanan.
Setelah itu kami duduk di belakang kelas dan duduk mengelilingi satu meja. Kita
biasa menamakan “buka resto” kalau waktu itu yang tiba. Seakan dianggap restaurant, tempat kita meluangkan waktu
untuk makan. Ada hal yang lucu juga jika tidak ada guru, untuk menghilangkan
kejenuhan biasanya teman-temanku mengadakan konser dangdut dadakan. Lumayanlah,
menghilangkan penat apalagi sehabis berkutik dengan mafia (matematika, fisika,
kimia).
Ketika
duduk di bangku kelas X, aku lumayan terkenal jago matematika. Alhasil, ketika
banyak pe-er matematika biasanya teman-teman mangkir ke bangkuku minta diajarkan
matematika. Karena kepintaran dalam matematika itu, pak guru mempercayakan
diriku mendapatkan nilai 100 di raport. Kelas X adalah awal aku menjadi peserta
olimpiade matematika. Sebenarnya saat itu aku jadi cadangan peserta, dibutuhkan
jika ada lowongan peserta. Ternyata, aku dicantumkan jadi daftar peserta dan
mulai berkutik dengan soal-soal olimpiade yang menguras otak itu. Pertama
kalinya ikut olimpiade, aku tak berharap
jadi juara. Apalagi ku belum berpengalaman mengerjakan soal-soal rumit itu.
Ternyata benar, memang belum saatnya aku menang untuk olimpiade matematika.
Seiring berjalannya waktu, akupun semakin rajin untuk memecahkan teka-teki
matematika. Akhirnya waktu kelas XI, aku mendapatkan juara III olimpiade
matematika se-Kabupaten Situbondo. Waktu menjadi juara itu, aku untuk ketiga
kalinya menjadi peserta olimpiade. Dengan pengalaman itu, aku jadi tahu bahwa
prestasi itu tidak didapatkan secara instant.
Selain olimpiade matematika, aku juga pernah ikut olimpiade kimia tingkat
Karesidenan Besuki. Walaupun tidak dapat juara, tapi aku cukup bangga dengan
masuk sepuluh besar finalis. Senang juga sebagai anak pesantren, kita ternyata
tidak kalah dalam segi akademik dengan anak SMA yang terkenal diluar sana.
Berawal
dari pengalaman bolak-balik ikut olimpiade dan selalu dapat peringkat I-II
adalah modal awal aku ikut PBSB. Aku mengenal PBSB sejak tahun 2007 ketika
kakak kelasku ada yang mengikuti seleksi. Dalam benakku saat itu, akupun ingin
menjadi salah satu bagian dari PBSB. Ketika akhir kelas XII, anak-anak yang
berprestasi di sekolah mendapat panggilan dari pihak sekolah untuk mengikuti
seleksi PBSB. Saat itu, siswa yang lolos administrasi ada 9 orang termasuk aku.
Kalau tidak salah, bulan April dilaksanakan ujian masuk PBSB di Asrama Haji
Sukolilo Surabaya. Di tempat itu juga, tempat dimana aku mengikuti seleksi olimpiade matematika
tingkat provinsi waktu dulu. Ujian yang dilakukan saat itu meliputi ujian
potensi akademik, bahasa inggris, psikotest,
dan kepesantrenan. Karena pengalamanku dalam olimpiade, aku hati-hati dalam
mengerjakan soal-soal. Lain halnya dengan temanku, setelah selesai ujian aku
bertanya pada temanku. Untuk pelajaran yang nilainya ada minus, dia asal
mengisi jawaban tanpa mempertimbangkan nilai minusnya. Aku jadi teringat ketika
pengumuman olimpiade dulu, ada yang nilainya minus karena asal mengisi jawaban.
Saat
pengumuman PBSB, aku diberitahukan temanku bahwa yang berhasil diterima aku dan
temanku itu. Aku diterima di IPB dengan jurusan Statistika dan temanku diterima
di UGM dengan jurusan Budidaya Perikanan. Sebenarnya saat itu aku mempunyai perasaan tak enak, karena ada
temanku yang sangat menginginkan masuk PBSB. Tapi takdir berkata lain, temanku
yang sangat berharap itu tidak diterima. Aku jadi sungkan memberitahukan
teman-temanku jika yang diterima PBSB hanya dua orang saja. Tapi akhirnya
merekapun tahu dan menerima kenyataan yang ada.
Selagi
menunggu panggilan untuk matrikulasi di IPB, aku juga menunggu pengumuman UAN.
Ketika malam sebelum keberangkatanku ke Bogor, aku dan temanku menunggu di gedung
SMA. Aku dan temanku begitu penasaran dengan pengumuman itu. UAN yang dilakukan
pada tahun 2008 adalah ujian dimana ada
enam mata pelajaran yang diujikan. Aku begitu penasaran dengan nilai fisika,
karena menurutku ujian ini yang paling susah. Waktu aku dan temanku baca
pengumuman, kami mengucapkan syukur “alhamdulillah”. Aku sudah tak peduli
dengan nilai, yang penting sudah ada cap “lulus” sebagai tanda aku bisa jadi
bagian dari PBSB.
Aku
tak tahu dengan Bogor, aku baru tahu Bogor saat aku menginjakkan kaki di
Cibinong. Pernah aku membayangkan, kalau Bogor itu kota hujan berarti tiap hari
hujan. Dan aku membayangkan bagaimana dengan jemuran pakaianku berarti tiap
hari harus dijemur di bawah atap genteng. Ternyata tak begitu, yang aku rasakan
biasanya hujan di Bogor itu sore. Jadi, jemuran bisa kering kalau dijemur dari
pagi sampai sore saja.
Aku
ke Bogor diantarkan pakdheku dan sepupuku. Sebelum ke IPB, aku diajak oleh
pakdheku ke rumah muridnya di Cibinong. Pakdheku juga tak tahu dimana letak
IPB, apalagi aku yang cukup awam ini. Aku diantar oleh murid pakdheku dengan
sepeda motor ke kampus IPB. Aku tak tahu ternyata IPB dari Cibinong itu cukup
jauh, tak bisa ku bayangkan saat itu aku membonceng sepeda motor dengan keadaan
pakai rok dan duduk menyamping.
Akhirnya
setelah menempuh waktu beberapa jam, aku
sampai juga di wisma Amarilis IPB. Disana aku kebingungan mau menyapa
orang-orang, dan tak begitu lama ada juga yang menyapaku. Ternyata dia adalah
teman yang disampingku saat aku ujian di Surabaya. Tetapi sekarang dia sudah
tiada, sudah dipanggil yang Maha Kuasa. Dia adalah teman yang seharusnya akan
jadi teman akrab di jurusanku. Temanku, semoga kau tenang di alam sana dan
sampai ketemu suatu saat nanti.
Ketika
aku bertemu dengan orang-orang dan lingkungan baru, saatnya juga bagiku untuk beradaptasi dengan keadaan yang ada. Layaknya seekor merpati yang baru keluar
dari sangkar, akupun ikut terbawa suasana. Apalagi baru punya handphone,
makhluk yang selama ini tak pernah ku sentuh dan ku otak-atik. Aku semakin
penasaran dengan hal yang baru seperti itu.
Aku
berkenalan dengan teman-temanku yang sama-sama PBSB. Ternyata mereka sama
polosnya seperti aku ketika pertama kali di IPB. Banyak hal-hal yang seru,
unik, dan kocak yang ku temui saat bergaul dengan mereka. Apalagi saat kuliah,
temanku ada yang iseng memotret temannya yang tidur. Cerita yang menurutku
kocak juga, saat temanku bercerita kalau ketika tengah malam dia dan temannya
sama-sama menelepon. Padahal mereka satu kamar, maklum saat itu mereka mungkin
tak ada kerjaan dan belum bisa tidur, serta provider handphone mereka sedang
promosi gratis nelpon tiap tengah malam sampai pagi.
Berbeda
dengan diriku yang saat SMA menjadi study-oriented,
aku ingin saat kuliah merasakan menjadi salah satu bagian dari suatu organisasi.
Setelah aku mencoba berbagai organisasi, ku sadari ternyata CSS Mora IPB-lah
yang melekat di hati. Disana baru kusadari betapa berartinya sebuah keluarga
dan kebersamaan.
Untuk
masalah kuliah, aku bukanlah bagian dari orang yang pintar. Aku pernah
merasakan hancur ketika mendapatkan nilai yang jelek. Tapi aku juga tak merasa
terpuruk, ternyata aku masih punya teman yang sama-sama senasib. Setidaknya itu
meringankan bebanku sebagai mahasiswa dengan nilai jelek. Prinsipku sekarang
ini yang penting adalah bisa lulus cepat dan segera mengabdi ke pondok. Andai
aku diberi kesempatan untuk kuliah S2, akan ku perbaiki cara belajar menjadi
lebih baik dan akan kutunjukkan menjadi salah satu bagian orang yang pintar.
Semoga Allah SWT mengabulkan pintaku ini (amin).
Kemungkinan
aku akan mengabdi di pondok dengan mengajar matematika di SMA. Kalau ada
tawaran mungkin juga mengajar di SMP yang ada di pondok. Selain bekerja di
pondok, aku juga ingin bekerja di luar tapi pekerjaannya tak jauh dari dunia
mengajar. Karena ketika di kampus juga diajarkan kewirausahaan, aku juga
mempunyai mimpi memiliki florist,
peternakan, dan restaurant. Di bidang
pendidikan aku juga berkeinginan melanjutkan kuliah S2 dan S3.
Success menurutku adalah
bermanfaat untuk orang lain (seperti yang disampaikan oleh Bang Sulam dalam sinetron
Tukang Bubur Naik Haji). Jadi apalah artinya orang pintar, jika ilmunya tidak
bermanfaat untuk orang lain. Seperti dalam agama Islam disampaikan bahwa ilmu
yang disampaikan ke orang lain termasuk amal jariyah. Mungkin sekian sepenggal
ceritaku, semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar